tifapapua – Dalam setiap hentakan kaki dan ayunan tangan dari tarian Yospan, tersembunyi warisan sejarah dan mitologi yang begitu kaya. Salah satu akar kisah yang menyelimuti lahirnya tarian ini adalah Legenda Manarmakeri, seorang tokoh suci yang diyakini telah menanam benih kebudayaan Papua melalui pengorbanannya yang luar biasa. Tarian Yospan bukan hanya bentuk ekspresi artistik semata, tetapi juga merupakan jembatan spiritual antara masa lalu yang sakral dan masa kini yang dinamis.
Menyibak Kabut Sejarah: Siapakah Manarmakeri?
Manarmakeri merupakan tokoh legendaris dalam budaya masyarakat Biak dan Serui, yang disebut sebagai manusia setengah dewa. Ia dikenal dengan kemampuan menyembuhkan, berjalan di atas air, bahkan menghilang dalam sekejap. Dalam cerita rakyat Papua, Manarmakeri dipercaya sebagai pembawa pengetahuan dan budaya, serta perantara antara manusia dan kekuatan ilahi.
Ia digambarkan sebagai sosok tua yang diasingkan karena tubuhnya penuh luka. Namun dari luka-lukanya itulah lahir kesaktian. Dalam satu versi cerita, setelah dibakar hidup-hidup oleh masyarakat yang mencurigainya, tubuhnya berubah menjadi cahaya dan naik ke langit—sebuah metafora tentang transendensi roh dan pencerahan budaya. Kepergiannya menandai awal dari kesadaran baru masyarakat akan pentingnya keselarasan antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Awal Mula Tarian Yospan
Yospan merupakan akronim dari dua jenis tarian: Yosim dari wilayah Serui dan Pancar dari Biak. Tarian ini populer sejak era 1960-an dan menjadi simbol persatuan pemuda Papua. Namun di balik gerakan yang enerjik dan musiknya yang semarak, tersimpan makna mendalam yang mengakar pada cerita-cerita mitologis seperti legenda Manarmakeri.
Gerakan dalam Yospan menggabungkan lompatan cepat, hentakan kaki, dan gerak saling berpegangan tangan dalam lingkaran. Dalam interpretasi budaya lokal, ini merupakan representasi simbolik dari nilai-nilai Manarmakeri — kebersamaan, perjuangan, pengorbanan, dan pengharapan.
Makna Sakral di Balik Gerakan
Tarian Yospan bukan sekadar hiburan. Gerakannya yang harmonis mencerminkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Papua: gotong royong, kekerabatan, dan keberanian. Dalam beberapa ritual adat, tarian ini digunakan sebagai media untuk menyampaikan rasa syukur atas hasil panen atau dalam pertemuan besar antar kampung.
Gerakan membuka tangan ke langit dalam tarian Yospan sering dimaknai sebagai bentuk komunikasi spiritual, seperti doa kepada leluhur. Ini mengingatkan kita pada Manarmakeri yang selalu berhubungan erat dengan dunia spiritual.
Musik dan Kostum yang Menyatu dengan Alam
Yospan diiringi oleh alat musik khas seperti ukulele, gitar, dan tifa (gendang Papua). Melodi yang cepat dan ritmik menjadi jiwa dari tarian ini. Kostum penari biasanya berupa rok rumbai dari daun sagu, mahkota dari bulu burung cenderawasih, dan cat tubuh berwarna merah, hitam, dan putih — warna yang secara spiritual menyimbolkan darah, kehidupan, dan kesucian.
Dalam legenda Manarmakeri, alam adalah bagian tak terpisahkan dari hidup. Oleh karena itu, tarian Yospan yang menyatu dengan elemen alam juga menjadi bentuk penghormatan terhadap ajaran sang legenda.
Jejak Manarmakeri dalam Budaya Populer
Walau berasal dari mitologi kuno, Manarmakeri tetap hidup dalam narasi budaya kontemporer Papua. Namanya diabadikan dalam lagu rakyat, cerita teater, hingga seni lukis. Bahkan sebagian masyarakat percaya bahwa semangat Manarmakeri tetap hadir di dalam setiap gerakan tarian Yospan.
Legenda ini juga digunakan sebagai pengingat agar generasi muda tidak melupakan jati diri mereka, terutama dalam menghadapi arus globalisasi. Yospan pun diajarkan di sekolah-sekolah adat dan sering dipentaskan dalam festival budaya, baik di Papua maupun luar negeri.
Fungsi Sosial Tarian Yospan
Selain fungsi spiritual, Yospan juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Ia menjadi sarana mempererat hubungan antar pemuda, media diplomasi antar suku, serta alat penyambutan tamu kehormatan. Dalam acara kenegaraan, tarian ini sering dipilih sebagai penampilan pembuka karena menyiratkan keterbukaan dan semangat perdamaian masyarakat Papua.
Narasi Legenda Sebagai Alat Pendidikan Budaya
Legenda Manarmakeri tidak hanya berfungsi sebagai kisah hiburan. Ia menjadi bagian penting dalam pendidikan informal masyarakat Papua. Melalui dongeng-dongeng lisan yang diturunkan dari generasi ke generasi, nilai-nilai luhur seperti kesetiaan, keberanian, dan kejujuran disampaikan secara halus namun kuat.
Dalam konteks inilah tarian Yospan menjadi metode alternatif pembelajaran nilai. Saat seorang anak menari Yospan, ia sejatinya sedang mempelajari filosofi hidup yang diwariskan Manarmakeri.
Tantangan dan Pelestarian
Sayangnya, seiring waktu, nilai-nilai sakral dalam tarian Yospan mulai tergerus. Banyak pertunjukan yang kini hanya menekankan sisi hiburan, mengabaikan makna filosofisnya. Oleh karena itu, penting bagi lembaga kebudayaan, tokoh adat, dan pemerintah untuk mendokumentasikan, mengarsipkan, dan mengajarkan kembali konteks kultural dari Yospan.
Revitalisasi legenda Manarmakeri di ruang pendidikan, media sosial, dan pertunjukan seni menjadi cara penting untuk melestarikan jati diri budaya Papua.
Refleksi: Menari Bersama Jejak Leluhur
Legenda Manarmakeri dan tarian Yospan mengajarkan kita bahwa budaya adalah warisan hidup, bukan sekadar artefak masa lalu. Dalam setiap gerakan Yospan, kita diajak untuk menyatu dengan alam, menghormati leluhur, dan memperkuat ikatan antar manusia.
Tarian ini bukan hanya bentuk ekspresi seni, tetapi juga sebuah refleksi spiritual yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Papua. Melalui kisah Manarmakeri, kita diajak untuk terus menjaga roh budaya agar tak larut dalam kabut zaman.